Selasa, 20 November 2012

Energi Listrik dalam Tubuh


Sebelum manusia mengenal listrik, ternyata Allah SWT telah menggelarkan listrik dalam tubuh manusia secara sangat canggih, bahkan sejak dari dihadirkan-Nya manusia pertama di bumi. Sel-sel dalam tubuh manusia yang jumlahnya lebih dari satu triliun masing- masing mempunyai muatan listrik sebesar 90 mV dengan muatan positif di luar membran sel dan muatan negatif di dalamnya.
Bila dapat dibuat hubungan seri dalam masalah listriknya antara satu sel dengan sel lain, maka memang tubuh manusia mempunyai potensi yang sangat besar dalam menghasilkan tenaga listrik. Misalnya untuk menghasilkan tegangan 220V (tegangan listrik rumah tangga) diperlukan hubungan seri 2500 sel saja, sedangkan tubuh manusia mengandung lebih dari satu triliun sel. Apakah hal yang demikian dapat dilakukan dalam tubuh manusia? Entahlah. Tetapi memang ada diberitakan, orang dapat menyalakan bola lampu hanya dengan memegang kutub-kutubnya, sehingga kiranya memang bukan hal yang mustahil, sebab bahan bakunya telah tersedia dalam tubuh manusia itu sendiri.
Semua alat tubuh manusia dalam menjalankan fungsinya selalu berkaitan dengan masalah listrik ini, khususnya saraf dan otot jantung. Penyakit dapat menimbulkan gangguan listrik dalam tubuh, sebaliknya gangguan listrik pada suatu alat tubuh dapat menimbulkan gejala penyakit.
Misalnya radang (selaput) otak dapat menimbulkan gangguan listrik pada otak, sehingga menyebabkan terjadinya kejang-kejang; sebaliknya gangguan listrik pada otak dapat menimbulkan gejala penyakit misalnya epilepsi (ayan). Hal yang sama dapat terjadi, baik pada otot maupun pada jantung, misalnya iskemia (kekurangan darah) atau infarct (kematian jaringan) otot jantung dapat menyebabkan gangguan tata listrik jantung, sebaliknya gangguan tata listrik jantung dapat menimbulkan gangguan irama denyut jantung (extra systole).
Hal-hal tersebut di atas dikemukakan, olehkarena ada disebut-sebut bahwa tenaga dalam ditimbulkan sebagai hasil dari pengaturan tata listrik dalam tubuh yang kemudian menghasilkan medan elektromagnetik yang mengelilingi tubuhnya. Bila memang demikian masalahnya, maka adanya medan elektromagnetik tersebut tentulah akan dapat dibuktikan berdasarkan hukum-hukum fisika. Contoh: sebuah kumparan kawat listrik yang diletakkan dekat pada sebuah kompas; bila kumparan itu kemudian dihubungkan dengan sumber arus listrik searah (batu baterai, accu), maka akan segera terbentuk medan elektromagnetik sekitar kumpatan itu. Bersama dengan terbentuknya medan elektromagnetik, maka jarum kompas (jarum kompas tiada lain adalah sebuah magnet) akan menunjukkan pergerakan. Makin kuat sumber arusnya, makin kuat dan luas medan elektromagnetik yang terbentuk dan makin besar terjadinya pergerakan jarum kompas itu. Demikian juga dalam hal jaraknya; makin dekat letak kompas terhadap kumparan makin besar pergerakan jarum kompas itu yang terjadi. Akan tetapi ada satu posisi tertentu di mana jarum kompas dapat sama sekali tidak bergerak, berapapun arus listrik yang dialirkan melalui kumparan, yaitu bilamana posisi kumparan kawat itu sedemikian rupa, sehingga arah medan elektromagnetik yang dihasilkan kumparan tepat sama dengan arah medan magnetik yang dihasilkan oleh jarum kompas itu.
Pada dasarnya semua orang mempunyai tenaga dalam, hanya saja tenaga dalam pada manusia biasa yang belum diolah masih dalam arah yang simpang-siur sehingga "tidak muncul ke luar". Tetapi bila kemudian diolah (melalui olah tenaga dalam) dan "dibuka" (oleh orang bertenaga dalam yang telah mampu), dan selanjutnya proses demikian diulang-tingkatkan (diulang dan ditingkatkan) lebih lanjut, maka keadaannya adalah ibarat besi lunak yang secara bertahap diolah menjadi baja dan pada setiap akhir tahap pengolahan diperkuat sifat magnetnya. Demikianlah, maka dengan melalui proses yang kira-kira serupa dapatlah dikembangkan tenaga dalam pada seseorang dan jadilah ia kini memiliki tenaga dalam yang "telah terwujud".
Dalam kaitan dengan proses tersebut di atas tadi, kiranya memang sangat beralasan adanya syarat minimal telah menjalani sekian kali latihan (18x) pada setiap tingkat, sebelum diizinkan mengikuti ujian kenaikan tingkat berikutnya ("dibuka" lebih lanjut). Selanjutnya, sebagaimana jarum baja yang telah dibuat magnet menjadi peka terhadap hal-hal yang bersifat (elektro)magnetik, maka orang yang "telah memiliki" tenaga dalam dapat menjadi peka terhadap adanya getaran-getaran yang bersifat tenaga dalam, baik yang berasal dari manusia ataupun sumber-sumber lainnya yang bersifat nyata maupun yang bersifat ghaib.
Orang yang sedang "dibuka" adalah ibarat jarum baja yang sedang diperam dalam kumparan kawat arus listrik searah atau ibarat sedang digosok-gosokkan kepada suatu magnet agar letak molekul-molekulnya menjadi teratur dan searah, atau dengan perkataan lain arah molekul-molekulnya sedang dibuat menjadi "sinkron". Pengertikan "dibuka" lebih tepat bila diartikan di"sinkron"kan, oleh karena pengertian di"buka" memang sering diasosiasikan kepada adanya "sesuatu" yang dimasukkan ke dalam diri orang yang di"buka" oleh orang yang mem"buka", sedangkan sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang dimasukkan oleh yang mem"buka" ke dalam diri orang yang di"buka".
Semua aktivitas fisiologis dalam tubuh manusia berhubungan dengan peristiwa listrik. Penyerang dengan emosinya yang berkobar dan maksud jahatnya untuk mencelakakan yang akan diserang, akan mempolakan cara menyerang dalam otaknya dan kemudian mewujudkannya dengan pergerakan kekuatan otot yang cukup besar. Kesemuanya ini berkaitan dengan peristiwa listrik dalam tubuhnya. Makin kuat emosinya dan makin keras upayanya untuk mencelakakan, maka makin besar terbangkitnya peristiwa listrik dalam tubuhnya. Pembangkitan peristiwa listrik dalam tubuh yang diluar kebiasaannya ini akan menghasilkan gelombang elektromagnetik yang berbeda arah dengan gelombang elektromagnetik orang bertenaga dalam yang akan diserang. Akibatnya ialah, gelombang elektromagnetik penyerang mengalami perubahan (terinduksi) dengan akibat lebih lanjut menjadi kacaunya gerakan menyerangnya, yang wujudnya ialah menjadi terpentalnya penyerang tersebut.
Keadaan tadi kiranya sama dengan jarum kompas yang didekatkan dengan letak yang tidak sesuai dengan arah gelombang elektromagnetik kumparan tersebut, yang akan menyebabkan jarum kompas itu bergerak. Bila orang yang diserang tidak mempunyai tenaga dalam, peristiwa seperti contoh di atas tidak akan terjadi, oleh karena orang yang tidak mempunyai tenaga dalam tidak memancarkan gelombang elektromagnetik dalam tubuhnya.
Ada satu pertanyaan. Mengapa bukan orang yang bertenaga dalam yang mental oleh pengaruh gelombang elektromagnetik orang yang menyerang? Hal ini pada umumnya tidak akan terjadi, oleh karena orang yang akan diserang biasanya berada dalam posisi tubuh yang lebih stabil dan akan lebih baik lagi bila orang itu juga berada dalam kondisi emosional yang tenang. Di samping itu, gelombang elektromagnetik orang yang bertenaga dalam lebih besar, sudah mapan dan mantap (selalu ada) dibandingkan dengan gelombang elektromagnetik "bangkitan sewaktu" dari orang yang sedang emosi. Makin besar tenaga dalam yang dimiliki orang yang akan diserang, makin tebal selubung gelombang elektromagnetiknya, sehingga semakin sulit bagi penyerang untuk mendekati orang yang akan diserangnya. Ibaratnya jarum kompas (apalagi jarum kompas "bangkitan sewaktu") tidak akan mampu menggerakkan besi magnet dan semakin besar magnet itu, maka jarum kompas yang didekatkan kepadanya sudah bergerak walaupun jaraknya masih jauh.
Kita kembali lagi, kalau orang tersebut tidak bermaksud menyerang, sekalipun ia mengerahkan kekuatan otot yang cukup besar, gerakannya tidak akan menjadi kacau karena arah gelombang elektromagnetiknya searah dengan gelombang elektromagnetik orang yang mempunyai tenaga dalam. Keadaannya sama dengan jarum kompas yang terletak dekat pada kumparan kawat dengan arus listrik searah dengan posisi sedemikian rupa, sehingga arah gelombang elektromagnetik kumparan sama dengan arah gelombang elektromagnetik jarum kompas itu, sebagaimana yang telah dikemukakan di bagian depan.
Sebuah pertanyaan lagi. Bagaimana bila si penyerang itu juga bertenaga dalam? Perlu diketahui bahwa sesama tenaga dalam adalah gelombang elektromagnetik yang searah, sehingga tidak akan saling berbenturan. Yang akan berbenturan ialah gelombang elektromagnetik "bangkitan sewaktu" hasil dari luapan emosi seseorang terhadap gelombang elektromagnetik tenaga dalam orang lain.


Alam bawah sadar (Inggris: subconscious) adalah segi kehidupan mental manusia yang terpisah daripada alam kesadaran normal manusia dan yang tak dapat diingat atas dasar kehendaknya saja. Alam bawah sadar merupakan terjemahan bahasa Inggris dari subconscious; beberapa pustaka menyatakan sebagai unconscious yang artinya tak sadar. Sebetulnya J.F. Herbert yang pertama-tama mengakui pentingnya peranan alam bawah sadar ini, akan tetapi barulah Freud dengan psikoanalisanya yang berhasil memberikan kedudukan pusat kepada alam bawah sadar ini dalam ikhtiarnya menjelaskan kegiatan mental manusia umumnya, dan gangguan-gangguan neurosis khususnya. Freud menganggap, bahwa alam bawah sadar ini berupa suatu daerah yang terbenam tetapi luas sekali dalam jiwa manusia, serta bertindak sebagai suatu sumber kekuatan yang dapat mencetuskan pelbagai dorongan dalam tingkah laku manusia. Alam bawah sadar ini dianggap mengandung dorongan-dorongan instink serta pelbagai pengalaman dan keinginan yang sosial tak akseptabel, yang oleh individu sendiri didesak hingga lupa (Inggris: repressed) agar tak diketahuinya secara sadar.

Sebagian besar ahli psikoanalisa yakin bahwa pelbagai perselisihan perasaan yang menjadi sebab pokok sesuatu neurosis, memang bersemayam dalam alam bawah sadar itu. Dengan sendirinya usaha mereka itu berpusat pada ikhtiar tertentu untuk menaikkan perselisihan itu ke taraf kesadaran manusia, hingga individu yang bersangkutan dapat mengetahuinya.

Bukti kenyataan empirik (yang berdasarkan pengalaman) yang paling kuat mempertahankan faham adanya suatu alam bawah sadar ini diperoleh Freud, ketika ia dapat memperlihatkan kenyataan, bahwa seorang individu dalam keadaan hipnosis dapat mengingat kembali pengalaman-pengalaman tertentu, yang tak dapat diingatnya.

Faham alam bawah sadar dari Freud ini, yang hakekatnya berupa suatu alam bawah sadar individuil, oleh C.G. Jung (seorang psikiater Swiss), ditambah dengan suatu alam bawah sadar kolektif yang diperoleh manusia sebagai anggota umat manusia seluruhnya. Beberapa aliran psikologi tertentu menolak faham alam bawah sadar ini, beberapa aliran lain menganggapnya suatu faham yang harus diabaikan saja.


Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2285120-definisi-dan-pengertian-alam-bawah/#ixzz2CoT3V6wg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar